Istano Basa Pagaruyung Kembali Dibangun

Diposkan oleh Zul Amri, SE On 01.06

SETELAH luluh lantak dimamah api pada 28 Februari 2007 lalu, Istano Basa Pagaruyuang di Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar kembali dibangun. Pembangunan kembali istana “pusek jalo pumpunan ikan” urang Minang ini, ditandai dengan acara “batagak tonggak tuo” yang dihadiri Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla dan sejumlah menteri, pejabat daerah dan masyarakat umum pada Minggu (8/7).
Dalam perencanaannya, istano ini akan berpindah lokasi beberapa meter di belakang lokasi lama yang telah hancur dimakan api. Di samping itu juga direncanakan dibangun sejumlah obyek wisata baru seperti kawasan flora ataupun fauna maupun kawasan wisata air. Dengan begitu nantinya, sebut Bupati Tanah Datar, Ir Shadiq Pasadigoe SH, kawasan istano akan lebih luas menjadi seluas 12 hektar.
Lantai istano yang akan dibangun tetap sama dengan yang lama, yakni 3 lantai, dengan lebar 60 meter. Jumlah tiangnya 82 buah dan memiliki gonjong 11 buah. Hingga saat ini dana yang dimiliki panitia pembangunan kembali istano itu baru sekitar Rp 20 miliar. Diperkirakan akan dibutuhkan biaya sekitar Rp 100 miliar untuk merampungkan istano dan kawasannya itu.
Prosesi “batagak tonggak tuo” ditandai sejumlah prosesi adat yang mengiringi proses pembangunan sebuah rumah gadang, seperti pendirian tonggak tuo oleh puluhan dubalang berseragam merah muda dan saat bersamaan diiringi bunyi gong kebesaran dan tabuah manggaga bumi. Selanjutnya setelah tukang utama (tukang tuo) melakukan ritual memulai pembangunan, adzan nan merdu pun berkumandang di sekitar lokasi pembangunan istano.
Lebih menariknya, prosesi ini juga diwarnai dengan kejadian unik. Di mana tonggak tuo yang akan ditanam sempat pula rebah. Rebahnya tonggak tuo yang dibalut dengan warna kuning tersebut, ternyata dimaknai lain oleh Wapres Jusuf Kalla melalui sebuah guyonan politik. “Mungkin karena tonggak tuo dibalut kain kuning yang merupakan warna kebanggaan Luhak Nan Tuo. Kalau hanya kuning dan merah saja yang ada, tidak kuat jadinya. Harus
ada warna yang bermacam-macam. Lihat, tadi kan tidak ada warna hijau,” ujar ketua umum DPP Partai Golkar itu penuh canda. Guyonan Jusuf Kalla ini, tentu saja dikaitkan dengan dengan silaturahmi antara Partai Golkar dengan PDI-P di Medan beberapa waktu lalu.
Sebenarnya, prosesi penanaman tonggak tuo ini telah dimulai sejak 5 Juli lalu. Diawali dengan pengambilan tonggak tuo di Nagari Tuo Pariangan, berupa kayu andaleh yang diambil secara bersama-sama di kuburan Dt Gerhano Dt Tantejo yang kemudian dibawa ke Istano Silinduang Bulan Pagaruyung. Tonggak tuo ini dilimauan (dimandikan dengan air limau-red), lalu diangkat menuju Istano Pagaruyung untuk didarahi dengan menyembelih satu ekor kerbau. Jumat (6/7), dilaksanakan penanaman kepala kerbau di lokasi dan dilanjutkan dengan berkaul dan seluruh rangkaian itu ditutup dengan berzikir yang dipusatkan di bawah beringin bagian utara Istano.
Seperti diketahui Istano Basa Pagaruyung memiliki makna yang besar bagi masyarakat Minangkabau. Istano bukan hanya sebagai lambang adanya kerajaan di negeri ini, tetapi istano juga dimanfaatkan untuk prosesi pemberian anugerahi gelar sangsako adat oleh masyarakat, termasuk oleh Nagari Tanjung Alam, di mana Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono Yang Dipatuan Maharajo Pamuncak Sari Alam bersama Ibu Hj Ani Bambang Yudhoyono, Puan Puti Ambun Suri, telah “dikambang laweh dirantang panjang” di Istano Basa Pagaruyuang.
Sejumlah tokoh nasional juga telah mengikuti proses yang hampir sama. Tokoh-tokoh yang pernah diberikan gelar sako dan sangsako adat (gelar kehormatan/penghargaan), baik oleh LKAAM Sumatera Barat maupun oleh Pewaris Kerajaan Pagaruyuang di antaranya adalah Jenderal Amir Mahmud Payung Panji Marawa Basa (mantan Mendagri RI), DYMM Tuanku Ja’afar Ibnu Tuanku Abdurrahman Perkasa Alam Johan Berdaulat (Yang Dipertuan Besar Negeri Sembilan, Malaysia), Tan Seri Datuk Samad Idris Tan Patih Johan Pahlawan (mantan Menteri Kebudayaan, Belia dan Sukan Malaysia), Sri Sultan Hamengkubuwono X Yang Dipertuan Maharajo Alam Sati (Raja/Gubernur DI Jogjakarta), Megawati Soekarnoputri Puti Reno Nilam (mantan Presiden RI), Drs H Zulkifli Nurdin MBA Yang Dipertuan Maharajo Dwang Sangguano (gubernur Jambi), Drs H Danny Setiawan Sutan Tumenggung Alam Sati (gubernur Jawa Barat), Drs Alex Nurdin Yang Dipatuan Sri Paduka Bagindo (bupati Musi Banyuasin, Sumatera Selatan), Drs H Syahrial Oesman Tuanku Bagindo Basa Nan Kayo (gubernur Sumatera Selatan), Prof Dr H Anwar Nasution Yang Dipertuan Tuanku Rajo Pinayungan Nan Sati (ketua BPK RI). Sedangkan khusus Taufik Kiemas Dt Basa Batuah adalah merupakan gelar sako adat dari kaumnya di Nagari Sabu, Kecamatan Batipuah, Kabupaten Tanah Datar.
Pemberian gelar sangsako adat ini berbeda dengan gelar sako, sebagaimana disebutkan Kamardi Rais Dt Panjang Simulie (ketua LKAAM Sumatera Barat) dengan “mati kuciang abih meong”. Maksudnya, gelar ini tidak dapat diwariskan kepada siapapun. Apabila yang bersangkutan meninggal dunia, maka gelar itupun habis. (Sumber: Go-ranahminang)

Reaksi: 

2 komentar

  1. Riwayat Said,

    salam kenal dari riwayat,semoga istana tersebut cepat selesai, sehingga kita-kita ini dapat berkunjug ke sana lagi.

    Posted on 28 Juni 2008 02.56

     
  2. pagi pak ari... wak masih baraja mambuek blog.. Blog nyo lah siap tapi alun terdaftar di yahoo, tau gooogle. Baa caro mendaftarkanyyo?????

    Posted on 12 November 2008 17.36

     

Poskan Komentar